Sunday, May 06, 2012

Hujan, Sepi Dan Kenangan

Ketika hujan turun, aku selalu berterima kasih. Berterima kasih kepada
hujan, karena telah memberiku
kesempatan untuk melamun. Bagiku, saat
hujan adalah saat yang tepat untuk
melamun. Melihat tetesan hujan dari
jendela yang terlihat seperti memaksa untuk masuk tapi terhalang kaca jendela.
Menatap kumpulan tetesannya yang
bersatu menjadi sebuah aliran air
menuruni kaca jendela, seolah mereka tak
lagi ada harapan untuk masuk, dan rela
untuk luruh jatuh ke tanah. Entah mengapa, hujan yang datang
beramai-ramai itu hanya menghadirkan
sepi. Apakah hujan terdiri atas 1% air +
99% kesepian? Jika benar begitu, yang
tersisa hanya 100% kenangan. Namun, bahkan setelah hujan berhenti
pun kesepian itu tak kunjung luruh
bersama aliran air hujan? Masih tetap
menggantung seperti tetesan embun di
pucuk daun.

--
Ade Amin Firmansyah

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.